Menghadapi Ledakan Emosi Anak
anak_yg_marah.jpg Tingkah laku kemarahan anak Anda yang
masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya
begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran
kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin
pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan
bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini
dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini?
Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat
kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.
Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan
melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat.
Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki
maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak
mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin
hanya jarang-jarang saja.
Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa
mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri
yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu
disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang
dewasa.
Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk
mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli
betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti
cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita
mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan
lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga
mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan
sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan
kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.
Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering
dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak
nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak
karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun
perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi
merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari
mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.
Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di
mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun
susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak
bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman
buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi,
ledakan emosi ini cenderung menurun.
Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus
melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka
ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah
kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak
berpikir â??aku bisa mengerjakannya sendiriâ?
atau â??aku mau itu, berikan itu padakuâ?. Nah, saat mereka merasa bahwa
mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka
inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.
Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan
Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan
menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa
membantu:
Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak
mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi
orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak
ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku
baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas
hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan
mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis.
Tawarkan pilihan kecil seperti â??Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?â? atau â??Apakah kamu mau menggosok gigi
sebelum atau setelah mandi?â?. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya â??Apakah
kamu mau menggosok gigi sekarang?â? yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan
â??Tidakâ?.
Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar
jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan
mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan
benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap
waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa
dikendalikan.
Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian
anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas
baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang
dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke
ruang lain.
Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu
tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi
setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan
sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih
menantang.
Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah
permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi
permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang
lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya
melakukan satu tugas lagi.
Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal
membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap
matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten.
Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan
keamanan.
Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan
Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan
seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap
bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda.
Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa
membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan
cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul
anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap
pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol
diri yang cukup.
Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi
kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya.
Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami
kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan
dan sikap selanjutnya.
Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari
seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum
memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda
mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah
mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi
ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas
Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan
perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak
kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi
yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk
kasus ringan bisa jadi sangat membantu.
Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang
marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang
lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk
ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat
umum.
Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan
emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah
mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah
bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk
menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan
waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga
mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di
mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.
Setelah Badai Kemarahan
Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan
kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata â??Saya
akan membantu menenangkanmu sekarangâ?. Tapi
jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah.
Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah
efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas
keberhasilannya mengendalikan diri.
Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka
mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat
untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.
Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan
dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta
petunjuk pelatihannya.
No comments:
Post a Comment