Apakah Disiplin Sama dengan Hukuman?
Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita
seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan
harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan” anak
tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna
disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan
dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.
Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini.
Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline
(disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan
dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhan”. Oleh karena itu
tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan
dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera :
penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik.
Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang
berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran.
Anak kita adalah seorang murid bagi orangtuanya. Agar ini dapat terjadi maka
sebagai orangtua kita selayaknya menjadi pemimpin yang berharga untuk dipatuhi
dan diteladani oleh anak-anak kita.
Perbedaan mendasar antara disiplin dengan hukuman adalah :
• Hukuman mengajarkan suatu pelajaran melalui pemaksaan
emosional atau kekerasan fisik, hukuman mungkin terlihat bisa menghentikan
perilaku yang tidak diinginkan saat ini namun sudah pasti tidak mencegahnya
terulang lagi di masa mendatang. Berdasarkan berbagai riset para pakar
psikologi hukuman bukan cara yang efektif agar anak bertingkah laku baik untuk
jangka panjang.
• Disiplin menggunakan kebijaksanaan untuk mengajarkan
nilai-nilai yang memperlihatkan betapa seorang anak dapat menentukan sendiri
pilihannya dengan baik sesuai dengan perkembangan emosinya saat itu. Oleh
karena itu tak ada “cara yang benar “ yang bisa berfungsi sepanjang waktu untuk
semua situasi
Saya jadi teringat dengan seorang klien kecil berusia 5
tahun, ia dikeluhkan oleh ayah dan ibunya sebagai anak yang susah diatur, sulit
diberitahu, pemarah dan sukanya hanya main boneka dan menonton film.
Saat pertama kali melihat wajahnya di ruangan saya biasa
menerima klien maka saya langsung tertarik dengan gadis kecil ini. Matanya
berbinar menandakan kecerdasan dan senyumnya merekah menandakan keceriaan khas
anak kecil. Saya tak yakin anak ini susah diatur dan sulit diajak bekerja sama
seperti yang dikeluhkan orangtuanya.
Saya langsung menyapa kedua orangtuanya dan kemudian
langsung mengalihkan perhatian padanya. Setelah berbincang santai dengannya
beberapa saat saya mengirimnya ke dalam ruangan lain untuk bermain bersama
dengan putera saya Fio dan Aldo. Dan sekarang saya hanya bertiga bersama kedua
orangtuanya. Tak berapa lama saya mendapati kedua orangtuanya over-expectation
(berpengharapan lebih) terhadap anaknya yang baru berusia 5 tahun.
“Saya ini sakit tenggorokan dan berusaha mencari cara agar
sembuh sendiri tanpa ke dokter karena ingin menghemat biaya. Saya berusaha
menjaga makanan yang masuk dan banyak minum air putih. Kemarin dia membuat saya
jengkel sekali. Sudah tahu dirinya batuk ehhh …… malah makan es krim. Saya
berkali-kali mengingatkan untuk menjaga makanannya namun ia tetap saja bandel.
Ia harusnya mengerti bagaimana orangtua susah mencari uang. Kami sudah berulang
kali menceritakan bagaimana kami bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup ehhhh
……… dia malah seenaknya saja dan tidak mau mengerti kesulitan orangtua.
Akhirnya kemarin saya bentak dia dan saya katakan kalau ia lebih baik di luar
saja tidak usah pulang rumah kalau hanya bisa menyulitkan orangtua saja” kata
sang ayah menceritakan kejadian yang membuatnya sangat jengkel dengan puteri
kecilnya.
Saya hanya bisa terdiam dan berusaha memahami jalan pikiran
sang ayah yang lagi frustrasi di depan saya. Kemudian sang istri menanyakan
pada sang suami, “Tapi kenapa kamu kemarin menawarkan es krim padanya walaupun
sudah tahu bahwa ia batuk?”
“Lho saya kan berusaha mendisiplinkan dia. Saya mau tahu
kalau dia lagi batuk seperti itu apakah dia bisa mengontrol diri atau tidak? Eh
…… kok malah tidak mengerti kalau sedang dites!”
“Lho kamu ini gimana sih, lha si Ellen itu sukanya es krim
kok malah kamu tawari. Kamu ini memang cari perkara kok. Kamu sendiri kemarin
makan krupuk sama telor goreng walaupun kamu tahu kamu sedang batuk. Terus
anakmu tanya kenapa makan gorengan kamu marah!”
“Lha gimana tidak marah. Ia anak kecil mau tahu urusan
orangtua. Kan sudah tidak ada pilihan makanan lain di rumah. Ia harusnya
mengerti dong kalau kamu sedang sibuk dan tidak sempat masak. Saya sebenarnya
juga tidak ingin makan gorengan tapi terpaksa karena tidak ada makanan lain.
Kalau saya sakit lebih parah kan yang susah juga seisi rumah”, kata sang suami
menimpali.
Ketika mendengar jawaban dari ayah ini saya sebenarnya ingin
tertawa tapi saya tahu itu tidak boleh. Saya hanya tersenyum kecil saja dan
mencegah pertengkaran suami istri tersebut agar tidak meledak menjadi perang
dunia di ruangan saya.
Jika Anda perhatikan sang ayah terlalu egois dan mau menang
sendiri. Ia menetapkan peraturan yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya
sendiri. Ia tidak memberikan si anak kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran
diri sesuai dengan usianya. Itulah “aturan plastis” yang sering dibuat orangtua
demi keuntungan dirinya. Aturan plastis itu seperti karet yang lentur. Kalau
orangtua yang berbuat maka pasti ada penjelasan masuk akalnya dan anak dituntut
mengerti penjelasan tersebut dengan keterbatasan cara berpikirnya tapi kalau
anak yang berbuat maka ia pasti disalahkan tanpa mempertimbangkan hal lain.
Dari percakapan singkat itu saja kita tak perlu kuliah
psikologi untuk tahu siapa penyebab masalah Ellen, yang menurut laporan
orangtuanya, susah diatur. Bagaimana menurut Anda, pembaca?
Disiplin positif berarti bekerja dengan komunikasi yang
baik, mendengarkan anak, mangamati anak dan menetapkan batasan yang jelas
terhadap perilaku anak. Saat membangun sebuah komunikasi perhatikan tipe
kepribadian dan bahasa cinta anak agar terhindar dari masalah yang lebih rumit
karena pemaknaan yang kurang pas dari pihak anak. Materi detai tentang tipe
kepribadian anak dan bahasa cinta bisa Anda pelajari dalam Parents Club
Multimedia Course.
Inilah rencana tindakan umum yang bisa kita lakukan untuk
membangun suatu situasi kondusif bagi terlaksananya disiplin positif :
1. Sosialisasi tindakan
• Sejak dini sosialisasikan apa yang hendak tuju ketika
anak-anak itu bertumbuh dan berkembang. Hal ini tergantung dari persepsi yang
dimiliki orangtua tentang berbagai aspek kehidupan. Secara bertahap sesuai
dengan perkembangan mereka ajarkan kebaikan, pentingnya menghargai kebutuhan
dan pendapat orang lain serta kasih sayang. Jangan menetapkan sesuatu tanpa
sosialisasi terlebih dahulu karena akan mengagetkan anak.
2. Penetapan batas
• Kunci penting di sini adalah keberanian dan kesadaran diri
orangtua. Ingatlah bahwa semua anak itu menguji batasan yang ditetapkan untuk
dirinya, terutama pada anak yang masih kecil (ini mungkin terdengar agak
menjengkelkan Anda, tapi itulah anak-anak). Hal itu menjadi bagian dari proses
perkembangan mereka.
• Tips yang bisa berguna untuk Anda kembangkan adalah :
– Batasan yang ditetapkan harus adil
– Aturan yang dibuat harus beralasan dan sesuai dengan
kemampuan anak
– Perintah yang diberikan harus jelas, positif dan tegas.
Perintah tidak jelas contohnya, “Mama mau kamu bersikap
baik!”. Bagi seorang anak usia 6 tahun pun ini masih membingungkan. Ia tidak
tahu maksud dari “baik” itu apa. Kata ini sangat relatif. Anda harus
menjelaskan poin- poin yang Anda maksud dengan kata “baik”. Apakah yang Anda
maksud meletakkan kembali mainan yang telah selesai digunakan atau mengucapkan
terima kasih setiap menerima pemberian atau permisi jika hendak lewat di depan
orang yang lebih tua atau apa lagi . ? Hal ini juga berlaku terhadap kata
“sopan”. Seringkali orangtua mengatakan pada anaknya “Kamu harus sopan, Nak!”
tanpa dibarengi dengan penjelasan dan batasan tentang kesopanan.
3. Beri kesempatan mereka mengalami akibat alami dari
perbuatannya
• Ijinkan mereka menanggung akibat dari perilakunya jika
mereka mencoba melanggarnya. Mereka akan belajar dari pengalaman buruknya. Yang
penting setelah mereka mengalami akibatnya jangan diolok-olok. Olokan semacam,
“Nah, rasakan sendiri akibatnya kalau tidak mau menurut Papa/Mama!”, malah akan
menimbulkan kesedihan mendalam dan bahkan luka batin dalam diri anak kita.
Cukup katakan,” Mama / papa ikut sedih kamu mengalami hal ini. Apa yang bisa
kamu pelajari dari hal ini agar lain kali kamu bisa lebih baik lagi? Bagaimana
Mama/ Papa membantumu agar lain kali tidak terulang lagi?”, setelah itu jika
perlu peluklah dirinya untuk membuatnya tetap merasa aman dan diterima apa
adanya.
4. Penghargaan
• Dekapan dan ciuman selalu merupakan sebuah penghargaan
besar bagi seorang anak. Penghargaan berupa hadiah secara perlahan perlu Anda
gantikan dengan perhatian positif saat perilakunya mengalami kemajuan. Kita
harus waspada terhadap situasi ketika anak-anak hanya akan melakukan sesuatu
demi mendapatkan penghargaan. Untuk hal ini Andalah yang tahu batasannya
berdasarkan kepekaan yang Anda kembangkan sendiri.
5. Otoritas
• Tegakkan otoritas Anda sebagai orangtua pada saat yang
tepat. Gunakan bahasa tubuh dan intonasi suara yang tepat pada saat yang tepat
pula untuk menunjukkan bahwa Anda serius dengan ucapan Anda. Ingatlah selalu
“seorang anak senantiasa menguji batasan terhadap dirinya dengan perilakunya”
No comments:
Post a Comment