Aduh … Anakku Mogok Sekolah!
“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.
Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa
anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya
suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4
tahun – saya sudah minta sekolah.
Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan
rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !
Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah
(belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar
di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan
mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa
ya ?
Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal,
adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke
sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan
dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih
sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah,
sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk
sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan
berkembang menjadi fobia sekolah.
Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini
adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :
Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang
ingin dilindungi di rumah
Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan
untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III.
Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari
kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin
meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah
satu dari kedua orangtuanya.
Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi
kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan
senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak
didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati
dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat
anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.
Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS
atau yang lainnya
Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan
bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan
untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin
direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak
untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor
inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.
Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih
menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini
yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek
atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah,
penyebab yang satu ini jarang terjadi.
Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak
menjadi takut sekolah
Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga
jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi
takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada
guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi
perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.
Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak
enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang
baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan
apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan
perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia
takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.
Perasaan kurang disayang dalam diri anak
Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia
memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia
tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak
berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh
anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ?
Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak
yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam
seminar dari Bapak Ariesandi.
Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak
menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia
bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya
seperti ibu memperhatikan adik baru.
Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak
membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.
Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah
?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah
dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan
netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi
permasalahan.
Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah
dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan
pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah
?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no
question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di
sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di
sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita
hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat
bukan bahasa tubuh menginterograsi.
Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah
ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika iya, maka dapat diartikan ia baru saja
mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau
mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak
dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak
suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah
untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah
ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita
tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak
ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah
(bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi
waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas
sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti
pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan
berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta
pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah.
Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan
pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam
dirinya (ada masalah ketika di dalam
kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya
adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah
keesokan harinya.
Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku
“Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak
Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.
Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun
anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini
saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan
pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada
penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia
mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang
terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman
emosional tersebut sangat kita butuhkan.
Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia
menjadi lebih baik lagi.
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga
Sandra M.,MPsi, Psikolog
No comments:
Post a Comment